 |
Islam is rahmatan lil
aalamiin |
Jihad
sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina |
|
Sabili On Line Edisi
Maret-April 2000
Hasan Kiat:
Dai PKPU
Ini Pembantaian Bukan Peperangan
Bagaimana kondisi di Halmahera saat ini?
Setiap hari terjadi pembantaian, di Tobelo dan Galela juga terjadi. Umat Islam di
kedua daerah itu benar-benar tidak berdaya. Di Tugu Liwa, sebelum penyerangan, umat Islam
berjumlah 1800 orang. Di antara mereka, 240 orang ditemukan syahid di dalam masjid dan 400
lagi di luar masjid yang berhasil mengungsi 400 orang dan 760 lagi hilang. Jumlah itu
belum lagi yang berasal dari desa Popilo, mereka juga lari ke hutan-hutan. Ini benar-benar
tragedi kemanusiaan.
Orang-orang Kristen Tobela menggunakan
anjing mengejar muslim, layaknya binatang buruan. Di hutan Tobela kini bermukim sekitar
1000 muslim dari Popilo dan Tugu Liwa, jika mereka tertangkap, kaum lelakinya langsung
dibantai. Yang perempuan dibawa ke perkampungan Kristen untuk diintimidasi.
Di Galela sendiri ada 5000 pengungsi yang
setiap pekan pada hari Selasa dan Kamis diserang oleh orang Kristen dari lima penjuru.
Pengungsi ini hanya mendapatkan pengamanan dari 300 tentara. Sedangkan di Tobelo lebih
parah lagi, disana sudah tidak ada lagi tentara.
Kondisi para pengungsi dan pelarian muslim bagaimana?
Salah satu di antaranya adalah Zaenab
Syamsudin, istri sopirnya Ustadz Kasuba, dia bersama empat orang Ibu lainnya yang membawa
anak kecil lari ke hutan selama 21 hari. Mereka diburu dan ditangkap pasukan kafir. Saat
akan dibunuh ada seorang yang mengenali mereka sebagai keluarganya dan meminta agar Zaenab
tidak dibunuh. Setelah dua hari ditawan, tentara datang dan membawa mereka ke Morotai
selanjutnya menuju Ternate.
Allah menyelamatkan mereka, kalau Pasukan Merah
menangkap orang Islam di hutan sebagian mereka pasti dibunuh. Sebagian lagi mereka bawa
untuk upacara pembantaian. Sedang yang tertawan dipaksa melihat saudaranya yang lain
dibantai dengan keji. Mereka memancung kepala dan memotong tubuh umat Islam.
Ada aparat keamanan, bagaimana sikapnya?
Aparat keamanan di sana hanya mondar-mandir
antara Tobelo dan Galela membunyikan senjatanya sebagai tanda agar umat Islam keluar dari
persembunyian untuk mendekati tentara. Tapi kebanyakan dari umat Islam tak bisa membedakan
bunyi senjata rakitan atau organik, sehingga saat mendengar mereka semakin jauh masuk ke
dalam hutan. Di hutan, meraka mungkin sudah banyak yang kelaparan atau mati dibantai. Ada
seorang Ibu yang melarikan diri dengan lima orang anak, selama 23 hari dalam pelarian satu
persatu anaknya meninggal hanya tinggal dua orang. Tapi banyak juga Ibu-ibu yang tidak
lari ke hutan tapi turun ke medan perang.
Di daerah mana saja umat Islam dibantai?
Pada saat terjadi pembantaian Panglima Max
Tamaela tidak bertindak sama sekali. Padahal, dia tahu persis yang terjadi di Tobelo dan
Galela. Kini sebanyak 7 kecamatan sudah mereka kuasai, Tobelo, Galela, Kao, Malifut, Tibu,
Pulau Loda, Sau. Di Halmahera Selatan mayoritas muslim, di Halmahera Tengah gereja-gereja
sudah habis tinggal satu kampung, itupun dijaga ketat oleh aparat.
Bagaimana kondisi muslim di daerah tersebut?
Semangat Jihad pasukan muslim sangat
tinggi, tapi tidak ditunjang dengan kemampuan logistik. Tanggal 6 Pebruari pasukan muslim
2000 orang bertempur dnegan jumlah yang tak seimbang, kalah jauh. Mereka akhirnya lari
karena selama dua hari dua malam tidak makan.
Kini situasi sudah relatif aman, bagaimana selanjutnya?
Keberadaan aparat memang mengurangi
peperangan, tapi bukan berarti peperangan sudah reda sama sekali. Saya berharap pers tidak
berhenti memberitakan, di Maluku pembantaian muslim masih terus terjadi.
Misbah