![]() |
||
|
Demo Mahasiswa Menentang Tragedi 4 MeiTuntut Mundur Dansektor Militer dan Gubernur Maluku Utara
Sabtu, 06 Mei 2000, @12:31 WIB
Ternate -- Tanggal 4 Mei, kurang lebih pukul 23.00 WIT, malam Kamis, di
Ternate terjadi konflik antara warga dengan TNI yang menyebabkab 7 warga
tewas dan 21 lainnya luka-luka.
Konflik yang berawal dari upaya TNI untuk menggagalkan keberangkatan
kurang lebih seratus warga Tobelo dan Galela, kembali ke Galela,
berakhir dengan tragedi yang memilukan, karena banyak warga
bertumbangan, ketika truk TNI dilarikan secara kencang sambil melepaskan
tembakan.
Yang disesali warga muslim Ternate, kenapa korban tewas di luar areal
kerusuhan, bahkan di lorong-lorong. Padahal, logikanya, jika TNI mau
menegakkan aturan, korban mestinya di galangan perahu, basis awal pemuda
Tobelo, di kelurahan Toboko, Ternate. Hal itu dijelaskan Kakansospol
Kabupaten Maluku Utara, Fachry Ammary.
Tak heran, jika mahasiswa Unkhair, dari kelompok study SAMURAI, fak.
hukum, menuntut agar tragedi 4 Mei itu segera diusut tuntas. Dalam
pandangan kelompok ini, kerusuhan di Ternate sepertinya sengaja
diciptakan sendiri oleh TNI, agar mereka dapat mempertahankan kekuasaan
di Maluku Utara.
Ketika Komandan Sektor Pemulihan Keamanan sementara mempresentasikan
rencana pembentukan Korem di ruang pers kantor Gubernur, mahasiswa
Unkhair Ternate, terdiri dari berbagai fakultas, dan organisasi ekstra
kampus macam HMI dan IMM, membacakan pernyataan sikap mereka yang
intinya menuntut agar usut tuntas kasus penembakan itu.
Menurut Hasbi Yusuf, Ketua HMI Cabang Ternate, ada unsur kesengajaan
yang kuat, tentara ingin melegalkan kehadiran mereka di bumi Maluku
Utara, dengan meledakkan kerusuhan baru di beberapa tempat. Maka, HMI
menolak tegas upaya menjadikan Maluku Utara sebagai daerah operasi
militer baru. Dan, Dansektor Kolonel Sutrisno dituntut bertanggung jawab
atas tragedi penembakan di luar daerah konflik oleh TNI terhadap rakyat
sipil, dan harus mundur dari jabatannya.
Senada dengan Hasbi, Abdurrahim Saraha dari SAMURAI menilai, sangatlah
tak tepat jika pembentukan Korem dilakukan di Maluku Utara. Yang
mendesak adalah penegakkan hukum, dan mengembalikan institusi hukum ke
tempatnya semula.
Tapi, Dansektor Operasi Pemulihan Keamanan Maluku Utara dalam
keterangannya di ruang pers kantor gubernur malah menilai, ada
kesengajaan segelintir kalangan untuk menghadapkan antara TNI dan Polri.
Namun Hasbi berujar sinis, "Sudah sengaja mengacaukan daerah, kok malah
berharap jadi komandan Korem." *** (ais/rus)
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh
(DI-08/05/00)
Source :
http://www.berpolitik.com/article.pl?sid=100/05/06/1231241